Friday, October 12, 2012

Bukan Melamun.


Karya: Septantya Chandra

Ini bukan melamun.
Anganku saja yang sejenak pergi menjauh.
Pada waktu dikala hatiku engkau sepuh.
Hanya sepeloncatan belalang, namun hatiku seketika membanjuh.

Ini bukan melamun.
Hanya membentang jarak pada akal dan raga.
Mengapa kau tak kunjung meniada, pada asa yang tak akan pernah ada.

Ini bukan melamun.
Melainkan diskusi hati.
Luka tak jua mau berdamai dan pergi, betah menggugu pilu dan enggan mendaki.

Ini memang bukan melamun.
Tak ada luka yang meminta ampun.
Karena aku bagai debu yang menghamba pada gurun.
Menghangatkan elegi dalam kelimun.

Namun ini juga bukan melamun.
Karena ikrarku tercetak dalam ingatan.
Kelak kita bertemu di persimpangan, luka ku telah di perban.
Sudah mampu menyapamu tanpa sayatan.