Karya: M Rozi Alfath & Anastasia Kresiadanti
Terkadang yg terasa hanya perih nan pedih, ketika
aku dan kamu kusebut satu.
Pertautan dua manusia yg sementara, meninggalkan
jejak tak kentara. selamanya.
Kamu, aku. Kini hanya bisa kusebut rindu.
Kusimpan dalam kalbu, semoga tak hangus menjadi
abu.
Satu yg kuanggap kita, memaksaku menghapus dengan
tidak mudahnya.
Selamanya yg berati bersama, hanya ada di dalam
asa.
Kukirim rindu kepada kamu, yg mungkin tidak sama
lagi, untukmu.
Kusebut kau masa lalu.
Terperangkap menjadi satu, tertuju hanya pada kamu
Mengapa harus pilu yg ada diingatanku?
Jika dulu hanya bahagia yg pernah aku bagi untukmu.
Sekarang, pilu itu dekat sekali dengan meragu.
Bahagia pun sekarang terasa semu.
Sebut aku batu, sembari mengeras ketika mengingat
yg dulu.
Sebut aku air, sembari mengalir saat sadari ini
hanya suratan takdir.
Takdir yg menyatukan, lalu takdir yg menghilangkan.
Lalu kenapa takdir masih saja mengingkan aku
menyayangimu, Sedangkan kamu pun mungkin enggan mengingat aku.
Terperangkap di suatu pagi antara aroma kini dan
lalu, berharap kamu masih menjadi seseorang yg tak berlalu.
Selamat pagi, kamu yg
berlalu.