Monday, October 15, 2012

Detik.


“Aku ingin mengoleksi detik-detikmu di setiap putaran waktu. Aku ingin menghentikan detik, saat kutangkap senyummu.” –Rahne Putri.

Layaknya aku, seseorang yang selalu menanti detik bersamamu. Hanya untuk menangkap senyummu saja? Tentu tidak. Karena setiap detik aku bersamamu, menguatkan aku.

Mungkin Aku.


Mungkin aku hanya guratan pasir pantai yang hilang ketika ombak mengalir halus tetapi menghapus.
Lambat laun hapusan itu pun akan berbentuk alur yang tak terputus.

Mungkin aku hanya bulir kopi yang terkubur dalam luapan asumsi.
Lambat laun aku pun akan melebur termakan opini.

Mungkin aku hanya lukisan cahaya yang akan hilang sekejap mata.
Lambat laun aku pun hanya kenangan yang tak mungkin terasa.

Tapi ingat, berdua kita pernah menjejak pasir pantai yang sama.
Berdua, kita pernah menghirup aroma kopi di cangkir yang sama.
Dan berdua pula, kita pernah mengabadikan lukisan cahaya di bingkai yang sama.

Mungkin aku…

Friday, October 12, 2012

Fabel Sederhana.


Semut merah yang perkasa sedang mencari makan.
Semut hitam yang manis sedang berjalan-jalan.

Tanpa sengaja mereka berpapasan.
Antar dua pasang mata saling bertatapan.

Mereka saling suka.
Mereka jatuh cinta.
Mereka hidup bahagia selamanya.


Ah, andai saja cerita kita seperti ini adanya.
Tanpa basa-basi, lamat-lamat terpaku perbedaan.

Sudahlah, kini pun aku telah bertemu pejuang hatiku, kamu pun juga begitu.
Semoga kita termasuk orang yang beruntung.
Amin.

Bukan Melamun.


Karya: Septantya Chandra

Ini bukan melamun.
Anganku saja yang sejenak pergi menjauh.
Pada waktu dikala hatiku engkau sepuh.
Hanya sepeloncatan belalang, namun hatiku seketika membanjuh.

Ini bukan melamun.
Hanya membentang jarak pada akal dan raga.
Mengapa kau tak kunjung meniada, pada asa yang tak akan pernah ada.

Ini bukan melamun.
Melainkan diskusi hati.
Luka tak jua mau berdamai dan pergi, betah menggugu pilu dan enggan mendaki.

Ini memang bukan melamun.
Tak ada luka yang meminta ampun.
Karena aku bagai debu yang menghamba pada gurun.
Menghangatkan elegi dalam kelimun.

Namun ini juga bukan melamun.
Karena ikrarku tercetak dalam ingatan.
Kelak kita bertemu di persimpangan, luka ku telah di perban.
Sudah mampu menyapamu tanpa sayatan.


Suatu Pagi, Kepada Kamu yang Berlalu.


Karya: M Rozi Alfath & Anastasia Kresiadanti

Terkadang yg terasa hanya perih nan pedih, ketika aku dan kamu kusebut satu.
Pertautan dua manusia yg sementara, meninggalkan jejak tak kentara. selamanya.
Kamu, aku. Kini hanya bisa kusebut rindu.
Kusimpan dalam kalbu, semoga tak hangus menjadi abu.

Satu yg kuanggap kita, memaksaku menghapus dengan tidak mudahnya.
Selamanya yg berati bersama, hanya ada di dalam asa.
Kukirim rindu kepada kamu, yg mungkin tidak sama lagi, untukmu.

Kusebut kau masa lalu.
Terperangkap menjadi satu, tertuju hanya pada kamu
Mengapa harus pilu yg ada diingatanku?
Jika dulu hanya bahagia yg pernah aku bagi untukmu.

Sekarang, pilu itu dekat sekali dengan meragu.
Bahagia pun sekarang terasa semu.

Sebut aku batu, sembari mengeras ketika mengingat yg dulu.
Sebut aku air, sembari mengalir saat sadari ini hanya suratan takdir.

Takdir yg menyatukan, lalu takdir yg menghilangkan.
Lalu kenapa takdir masih saja mengingkan aku menyayangimu, Sedangkan kamu pun mungkin enggan mengingat aku.

Terperangkap di suatu pagi antara aroma kini dan lalu, berharap kamu masih menjadi seseorang yg tak berlalu.

Selamat pagi, kamu yg berlalu.

Long Time No See!



Officially missing my best friend, Satrio Mulyo Purnomo, who internship in Jakarta. Hope the best for him. Amen.